CXinsightCXinsight
Liputan spesialCX Leaders

Head of CX BelanjaKu: "Kami Berhenti Mengukur Kepuasan, Mulai Mengukur Usaha"

Wawancara dengan pemimpin tim customer experience e-commerce BelanjaKu tentang pergeseran dari CSAT ke Customer Effort Score.

Narasumber

Ratna Dewanti

Head of Customer Experience, BelanjaKu

Wawancara oleh Sarah Wijaya · 8 September 2026, 02.00 WIB · 6 menit baca · 4 foto

Potret pemimpin tim customer experience di ruang kerja terbuka
CX LEADERS

CSAT bisa tinggi padahal prosesnya melelahkan. CES memaksa kami jujur soal seberapa keras pelanggan harus berusaha.

— Ratna Dewanti

Bagikan liputan ini

Di layar laptop Ratna Dewanti ada satu grafik yang ia sebut "grafik paling jujur di kantor". Garisnya tidak menunjukkan berapa banyak pelanggan yang puas, melainkan berapa banyak langkah yang harus mereka tempuh sebelum masalahnya selesai: berapa kali membuka aplikasi, berapa kali menghubungi layanan pelanggan, berapa hari menunggu kabar pengembalian dana. "Grafik ini tidak pernah membuat saya tenang. Justru itu gunanya," katanya sambil tertawa.

Dua tahun lalu, tim customer experience BelanjaKu mengandalkan Customer Satisfaction Score (CSAT) sebagai metrik utama. Kini, metrik itu digeser ke posisi kedua, digantikan Customer Effort Score (CES) yang mengukur seberapa mudah pelanggan menyelesaikan masalahnya. Keputusan itu tidak populer pada awalnya, termasuk di dalam tim Ratna sendiri, karena skor CSAT BelanjaKu saat itu sebenarnya terlihat baik-baik saja.

Ratna, yang memulai karier sebagai analis riset pelanggan sebelum memimpin tim CX BelanjaKu, bercerita kepada CXinsight tentang alasan di balik pergeseran itu, perdebatan internal yang menyertainya, dan apa yang berubah dalam cara perusahaan memprioritaskan fitur.

CSAT bisa tinggi padahal prosesnya melelahkan. CES memaksa kami jujur soal seberapa keras pelanggan harus berusaha.
Ratna Dewanti, Head of Customer Experience BelanjaKu
Potret Ratna Dewanti, Head of Customer Experience BelanjaKu, di ruang kerja terbuka

CX Leaders

Pelanggan yang puas belum tentu kembali. Pelanggan yang dimudahkan, hampir selalu kembali.

Ratna Dewanti

Head of Customer Experience, BelanjaKu

Ratna Dewanti, Head of Customer Experience BelanjaKu. — Unsplash

Ketika skor kepuasan terlihat terlalu baik

Apa yang membuat Anda mulai meragukan CSAT?

Ada satu periode ketika CSAT kami stabil di angka yang tinggi, tapi tingkat pembelian ulang dari pelanggan yang pernah mengajukan komplain justru turun. Dua angka itu seharusnya tidak bergerak berlawanan arah. Jadi kami membaca ulang ratusan transkrip percakapan dan menemukan polanya: banyak pelanggan memberi nilai bagus karena di akhir mereka mendapat apa yang diminta, entah uangnya kembali atau barangnya diganti.

Tapi untuk sampai ke sana, mereka harus menghubungi kami tiga sampai empat kali, mengunggah foto yang sama berulang-ulang, dan menunggu tanpa kabar. CSAT bisa tinggi padahal prosesnya melelahkan, asal di akhir pelanggan mendapat apa yang dia mau. Rasa lega di akhir itu menutupi semua kelelahan di tengah jalan. Dan kelelahan itulah yang membuat mereka diam-diam pindah ke tempat belanja lain.

Bagaimana CES diukur di BelanjaKu?

Kami mengirim satu pertanyaan sederhana setelah sebuah kasus ditutup: seberapa mudah menyelesaikan masalah Anda hari ini? Skalanya dari sangat sulit sampai sangat mudah. Tapi kami tidak berhenti di survei. Kami juga menghitung sinyal perilaku, misalnya berapa kali pelanggan menghubungi kami untuk kasus yang sama, berapa kali dia berpindah kanal, dan berapa lama jeda antara laporan pertama dan penyelesaian.

Kombinasi keduanya penting. Survei menangkap persepsi, data perilaku menangkap kenyataan. Kadang pelanggan bilang prosesnya mudah, padahal datanya menunjukkan dia harus bolak-balik. Itu biasanya tanda pelanggan sudah terbiasa dengan standar yang rendah, dan itu sama sekali bukan kabar baik.

Anda menyebut keputusan ini sempat tidak populer di tim sendiri. Mengapa?

Karena CSAT itu angka yang menyenangkan. Tim sudah bertahun-tahun bangga dengan skor yang tinggi, dan tiba-tiba saya datang dengan metrik baru yang membuat kinerja kami terlihat jauh lebih buruk. Beberapa supervisor terus terang bertanya, apakah ini cara halus untuk menyalahkan mereka. Saya paham kekhawatiran itu.

Jadi bulan-bulan pertama kami pakai untuk mendengarkan, bukan menilai. Para supervisor ikut membaca transkrip, ikut menandai titik-titik di mana pelanggan harus mengulang informasi. Begitu mereka melihat sendiri betapa melelahkannya perjalanan pelanggan, resistensinya berubah menjadi energi. Banyak ide perbaikan pertama justru datang dari agen yang setiap hari menerima pertanyaan yang sama.

Kalau pelanggan bilang prosesnya mudah padahal ia harus bolak-balik, artinya ia sudah terbiasa dengan standar yang rendah.
Ratna Dewanti, Head of Customer Experience BelanjaKu

Bagaimana perubahan ini memengaruhi keputusan produk

Menurut Ratna, pergeseran metrik ini mengubah prioritas roadmap tim. Fitur yang dulunya dianggap "nice to have", seperti pelacakan pengembalian dana secara real-time, naik prioritas karena terbukti paling menurunkan skor usaha pelanggan.

Mengapa pelacakan pengembalian dana menjadi prioritas?

Karena itu sumber kontak berulang terbesar kami. Pelanggan yang menunggu pengembalian dana akan bertanya, lalu bertanya lagi, lalu bertanya di kanal lain. Bukan karena mereka tidak sabar, tapi karena mereka tidak tahu uangnya sedang berada di mana. Begitu kami menampilkan statusnya tahap demi tahap di aplikasi, lengkap dengan perkiraan tanggal dana masuk ke rekening, pertanyaan soal itu turun drastis.

Contoh lain adalah formulir pengembalian barang. Dulu pelanggan harus mengisi alasan, memilih kategori, mengunggah foto, lalu menunggu verifikasi manual. Sekarang untuk kategori barang dan nilai transaksi tertentu, pengembalian disetujui otomatis. Tim risiko awalnya khawatir soal penyalahgunaan, jadi kami mulai dari kategori kecil, memantau datanya selama beberapa bulan, baru kemudian diperluas.

Paket belanja daring yang siap dikirim kepada pelanggan
Proses pengembalian barang menjadi salah satu titik yang paling menentukan besar kecilnya usaha pelanggan di e-commerce. — Unsplash

Bagaimana tim produk menyambut perubahan prioritas itu?

Lebih baik dari dugaan saya, karena kami datang membawa bukti, bukan opini. Setiap kuartal kami menyusun daftar perjalanan pelanggan dengan skor usaha paling buruk, lalu duduk bersama tim produk untuk memilih mana yang akan diperbaiki. Kriterianya sederhana:

  • Seberapa sering perjalanan itu memicu kontak berulang ke layanan pelanggan.
  • Seberapa besar pengaruhnya terhadap kemungkinan pelanggan berbelanja lagi.
  • Seberapa cepat perbaikannya bisa diuji dalam skala kecil sebelum diluncurkan penuh.

Meyakinkan divisi lain

Ratna mengakui tantangan terbesarnya bukan pada pengumpulan data, melainkan meyakinkan divisi lain bahwa skor usaha yang rendah sama pentingnya dengan konversi penjualan.

Apa yang paling sulit saat meyakinkan tim lain?

Bahasanya berbeda. Tim pemasaran dan tim komersial berbicara dalam bahasa konversi, nilai transaksi, dan pertumbuhan. Ketika saya datang membawa skor usaha pelanggan, reaksinya sopan tapi dingin. Mereka bertanya, lalu apa hubungannya dengan penjualan?

Jadi kami berhenti menyajikan CES sebagai metrik CX dan mulai menerjemahkannya. Kami menunjukkan bahwa pelanggan dengan pengalaman berusaha tinggi berbelanja lebih jarang dalam tiga bulan berikutnya dibanding pelanggan yang masalahnya selesai dengan mudah. Begitu hubungannya terlihat dengan angka penjualan, percakapannya berubah. Sekarang skor usaha masuk ke laporan bulanan direksi, berdampingan dengan konversi.

Kami berhenti menyajikan skor usaha sebagai metrik CX dan mulai menerjemahkannya ke bahasa semua divisi: pelanggan yang kembali berbelanja.
Ratna Dewanti, Head of Customer Experience BelanjaKu

Apakah CSAT kini tidak lagi dipakai?

Masih dipakai, hanya posisinya berubah. CSAT tetap berguna untuk menilai keramahan dan kualitas interaksi dengan agen. Tapi untuk mengambil keputusan soal proses dan produk, CES jauh lebih tajam. Kami juga berhati-hati agar CES tidak berubah menjadi angka yang dikejar demi angka itu sendiri. Agen tidak dinilai secara individu berdasarkan CES, karena sebagian besar usaha pelanggan ditentukan oleh proses, bukan oleh agen.

Ratna Dewanti, Head of Customer Experience BelanjaKu, saat berbincang dengan CXinsight

CX Leaders

Sebagian besar usaha pelanggan ditentukan oleh proses, bukan oleh agen. Jangan hukum orang untuk kesalahan sistem.

Ratna Dewanti

Head of Customer Experience, BelanjaKu

Ratna Dewanti menegaskan skor usaha pelanggan tidak dipakai untuk menilai agen secara individu. — Unsplash

Langkah berikutnya

Ke depan, Ratna ingin memindahkan pengukuran usaha ke hulu. Alih-alih menunggu pelanggan mengeluh, timnya sedang memetakan perjalanan pelanggan yang paling sering memicu kontak, dari pembayaran gagal hingga perubahan alamat pengiriman, untuk dirancang ulang bersama tim produk sebelum masalahnya muncul. Ia juga berencana membuka skor usaha per perjalanan pelanggan kepada seluruh karyawan lewat dasbor internal, agar setiap tim bisa melihat dampak keputusannya terhadap pelanggan.

"Kontak terbaik adalah kontak yang tidak perlu terjadi," ujarnya. "Kalau suatu hari tim saya menerima lebih sedikit pertanyaan karena pelanggan memang tidak perlu bertanya lagi, itu tanda kami berhasil."

Ikuti topik di artikel ini

Industri: E-commerce

Sarah Wijaya

Writer, Service & Contact Center

Sarah pernah bekerja di operasional contact center sebelum beralih ke jurnalisme. Ia menulis tentang praktik layanan pelanggan sehari-hari.

CXinsight di WhatsApp Channel

Satu sampai dua kabar CX terpenting per hari, langsung di WhatsApp.Tanpa grup, tanpa spam.

Segera hadir